Adinda Thomas Ikut Berperan di Film “Anak Penangkap Hantu” Berlatar Tempat di Desa Tapi Bukan Film Horror

Adinda Thomas

Film Indo – Nama Adinda Thomas sempat viral karena membintangi film Indonesia dengan jumlah penonton terbanyak di bulan April tahun 2022 yakni “KKN di Desa Penari”. Jika di film “KKN di Desa Penari” Adinda Thomas berperan sebagai Widya, maka di film “Anak Penangkap Hantu”, ia berperan sebagai Gita.

Film yang diproduksi oleh MNC Pictures ini merupakan adaptasi dari tulisan Asma Nadia dengan judul yang sama. Uniknya, meskipun ada unsur horor yang terdapat pada judul, film ini sama sekali tidak berbau horor.

Judul Horor tapi Bukan Film Horor

f5330293 bc3e 454c a3d7 d03b19b75367 169

Seperti yang dikatakan sang sutradara, Jose Purnomo. Film ini mengusung tentang cerita petualangan yang ramah anak. Pemain utama film ini bisa dikatakan adalah seorang anak-anak yang pemberani memiliki misi untuk memecah semua misteri di desa.

Jose Purnomo berharap dengan adanya film ini bisa membuka sudut pandang anak-anak dan memberikan tomtonan yang berbeda. Penuh dengan tantangan seru, film ini cocok untuk menemani kumpul bersama keluarga.

“Saya berharap anak-anak Indonesia menyukai film ini dan jadi tontonan yang baru,” ujar Jose Purnomo memberikan keterangan pada konferensi pers saat Syukuran Film Anak Penangkap Hantu pada 2 Juni 2022.

Di film terbaru MNC Pictures ini, Adinda Thomas kembali dipercayai untuk memainkan salah satu peran yang cukup penting, Berperan sebagai Gita, Adinda Thomas harus mulai memahami bagaimana karakter Dinda.

Adinda Thomas Memerankan Tokoh Gita Seorang Gadis Jawa

Pemilik nama asli Adinda Noviana Sari N. Thomas itu senang bisa menjadi bagian dari film yang memiliki cerita unik dan genre yang baru bagi anak-anak. Tak kalah seru juga jika ditonton oleh orang dewasa.

Pasalnya, Adinda Thomas harus syuting lagi di sebuah desa yang penduduknya kebanyakan berbahasa Jawa. Meskipun tidak sehoror film sebelumnya, film “Anak Penangkap Hantu” diperkirakan tetap akan membuat penonton tercengang.

Film ini juga akan berlatar di daerah Jawa Timur, tepatnya di Banyuwangi. Alasan pemilihan daerah ini karena beberapa adegan film mengambil latar di sungai sedangkan Banyuwangi memiliki keindahan sungai, danau, dan hutan.

“Kota Banyuwangi itu bisa menyediakan semua dan nggak terlalu terekspos. Di sana juga banyak hutan dan pohon tinggi,” jelas Jose Purnomo.

Sosok Adinda Thomas sendiri didapuk sebagai gadis asli Banyuwangi, Jawa Timur yang berkuliah di Jakarta. Latar belakang Gita adalah gadis yang memiliki permasalahan berkaitan dengan hantu karena ada beberapa orang yang hilang di desanya.

Sinopsis film “Anak Penangkap Hantu”

Orang-orang sekitar mempercayai bahwa mereka diganggu oleh hantu, berawal dari peristiwa tersebut, Gita mencoba mencari bantuan para penangkap hantu untuk menyelesaikan masalah di desanya.

“Gita meminta bantuan ke Anak Penangkap Hantu untuk membantunya menyelesaikan masalah di desanya. Ketika mereka udah mulai menjalankan misi, di situlah banyak petualangan yang muncul. Ada suka dan dukanya, ada juga tantangannya,” jelas Adinda Thomas pada saat konferensi pers.

Ia mengaku bahwa film “Anak Penangkap Hantu” seru dan ia berharap bisa menghibur penonton dengan adanya film tersebut.

“Seru banget filmnya, Semoga film Anak Penangkap Hantu bisa menghibur penonton,” tambah Adinda Thomas.

Di setiap proses syuting, biasanya memang terdapat tantangan tersendiri bagi para artis untuk benar-benar menyelami bagaimana karakter yang dibawakan. Ada pula yang harus mengubah fisik mereka agar sesuai dengan karakter mereka di film.

Sesuai dengan cerita film tersebut, Gita yang merupakan seorang perempuan Jawa membuat Adinda Thomas harus memahami bagaimana karakter perempuan Jawa Timuran dan harus menguasai bahasa mereka.

“Aku yang asli orang Sunda harus digembleng buat belajar bahasa Jawa ini bikin aku tegang banget saat proses reading karena ini tiga hari sebelum syuting, nanti menjelang syuting digembleng lebih kenceng lagi buat berbahasa Jawa,” cerita Adinda Thomas.

Tantangan tersulit ketika belajar berbahasa Jawa adalah berdialek dan mengatur intonasi sebagai anak Jawa Timuran yang khas. Aksen suroboyoan yang lebih keras ketika diucapkan tentunya berbanding terbalik dengan aksen Sunda yang terkenal kalem.

“Untuk bisa jadi arek Suroboyoan, aku bener-bener harus berdialek dan menggunakan intonasi yang benar ketika bicara, cara ngomong ‘e’ dan ‘u’, aksen-aksen seperti itu aku berusaha banget supaya bisa kasih yang terbaik untuk film ‘Anak Penangkap Hantu’ ini,” tutur Adinda Thomas.

 

You May Also Like

About the Author: Yodik